Jumat, 19 November 2010

Mainan Baru untuk Generasi Berikutnya


Apakah video game akan membuat mainan usang?
Sebuah artikel baru pada Koran The Independent (Inggris), mengajukan pertanyaan menarik.
Mereka bertanya: "Apakah video game akan membuat mainan tradisional menjadi usang?" Sampai sekarang, aku tidak benar-benar memikirkannya. Namun, aku pikir itu pertanyaan yang layak untuk dibahas.
Dalam 15-20 tahun terakhir, munculnya industri video game bernilai US$ 60 milyar telah meroket. Industri ini telah berjaya dari sekedar hobi yang biasa menjadi sebuah industri besar yang sekarang menghasilkan pendapatan lebih banyak daripada Hollywood.
Video game sangat populer sekarang sehingga semua orang mulai dari anak-anak sampai dengan kakek-kakek tahu memainkannya.
Bagaimana dengan mainan? Apakah orang-orang masih bermain dengan boneka figur aksi, mobil miniatur dan pistol atau senjata palsu? Apakah anak-anak masih menikmati hal-hal ini, atau hiburan digital telah mengambil alih peran tersebut?
Nah, pasti banyak alasan sehingga orang berpikir bahwa industri mainan telah memudar.
Games, terutama yang dari variasi online, telah menjadi sumber standar untuk hiburan bagi ratusan juta orang. Lagi pula, jauh lebih menyenangkan bermain dengan mainan hewan piaran online daripada bermain dengan boneka-bonekaan.
Perbedaan terbesar antara mainan tradisional dan video game adalah faktor multipemain. Tidak ada mainan yang bisa membuatmu bermain bersama ribuan orang, dan itu alasan besar mengapa popularitas video game semakin meningkat.
Namun, sedikit prematur untuk mengatakan bahwa industri mainan tradisional akan mati. Perusahaan seperti Mattel masih menyapu pendapatan miliaran dolar setahun. Bukan hanya itu, tidak semua orang mampu untuk membeli konsol canggih dan game mereka.
Ini tidak akan lenyap dalam waktu dekat.
Sebagian besar penduduk negara-negara berkembang masih hanya mampu membeli mainan tradisional. Ini tidak akan berubah dalam waktu dekat.
Jadi sangat mungkin bahwa kedua industritersebut akan terus tumbuh. Pada akhirnya, banyak anak-anak yang akan bermain dengan boneka tokoh-tokoh aksi dan menggunakan imajinasi mereka.

Banyak Keringat, Tanda Kelainan Jantung???

Sering, kita jumpai anak yang kepala atau telapak tangannya selalu berkeringat. Sampai-sampai si anak mengadu pada orang tuanya dengan kesal karena setiap kali menulis atau memegang sesuatu, telapak tangannya berkeringat. Habis dilap, keringat akan mengucur kembali.Bahkan, ada anak yang tetap berkeringat meski berada di ruangan ber-AC. 

Nah, kebanyakan orang tua lantas menjadi cemas, "Jangan-jangan anak saya terkena penyakit jantung." Bukankah salah satu gejala penyakit jantung adalah penderita mengeluarkan banyak keringat?

Disertai gejala lain

Memang, seperti diakui Dr. Najib Advani, Sp.AK, MMed. Paed.,  keluarnya banyak keringat bisa merupakan gejala penyakit kronis, seperti TBC, Malaria, atau gagal jantung. "Tapi jangan dibalik, lo. Bukan banyak keringat yang mengakibatkan penyakit jantung, misalnya," tukas spesialis anak Konsultan Ahli Jantung Anak Bagian Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta ini.

Kamis, 18 November 2010

Nokia Segera Rils Ponsel-Ponsel Symbian 3


Tempo hari, Nokia menegaskan tiga platform yang akan menjadi kunci barisan produknya di masa depan. Masing-masing S40, Symbian^3, dan MeeGo. Dan, ponsel Symbian^3 tampaknya paling emmperoleh perhatian besar. Sementara MeeGo, belum ada informasi yang bisa disampaikan, seri apa yang akan meneruskan perjalanan Nokia N900 (yang waktu dirilis masih memakai OS Maemo). Padahal sebuah pabrikan bernama Neofonie telah merilis perangkat WeTab yang berbasis tablet internet dengan OS Maemo.

Konsentrasi Nokia Indonesia tampak serius betul merilis seri Symbian ^3. Setelah Nokia N8 yang merupakan pasukan pertama pemakai Symbian^3, bakal diteruskan oleh Nokia E7 yang tidak lain kelompok Communicator. Persiapan Nokia terlihat ketika memamerkan seri-seri seperti C7 dan seri C6-01. Ponsel kedua ini merupakan penerus seri C6 yang menggunakan dua interface layar sentuh dan keyboard QWERTY.

Nokia C7 merupakan alternatif lain di luar N8 yang selisih harganya terpaut sekitar Rp 1 jutaan lebih murah. Sekarang N8 dibanderol di kisaran Rp 5 jutaan. Kalau N8 sangat mengandalkan fungsinya sebagai perekam video dan foto lantaran memiliki kamera 12 MP, maka C7 tidak. Ia lebih didedikasikan untuk internet bergerak. Lihat saja, kameranya tak perlu memakai 12 MP, namun cukup dengan 8 MP saja dan sudah sesuai untuk keperluan memotret foto untuk segera dikirim ke situs foto atau jejaring sosial.

Karena itu pula sejumlah perangkat yang mendukung kegiatan berinternet tetap dipertahankan. Misalnya saja konektivitas yang meliputi jaringan GSM HSDPA maupun Wi-Fi. Lantas, ruang memori tetap dipertahankan besar dengan tambahan ekspansi memori. Dalam hal ini, fungsi multimedia adalah unggulan, terutama untuk menyimpan file video DivX.

Sementara itu, Nokia C6-01secara umum mirip spesifikasinya dengan C7. Namun tombol QWERTY sudah dilepas, tak seperti desain awalnya. Selain itu, ruang memorinya memang tak sebesar C7 atau N8.

Ponsel-ponsel Symbian^3 berada di segmentasi kelas mid ke high. Secara umum mereka termasuk early adopter yang sangat menyukai aplikasi. Maka wajar saja jika pada menjelang akhir tahun ini, Nokia Indonesia menggelontorkan setidaknya empat seri (N8, E7, C7, dan C6-01), sebab dengan begitu diharapkan Ovi Store tak akan sepi pengunjung. Apalagi bila, strategi untuk mengenalkan konsep flat rate dengan operator, sebuah konsep yang kira-kira mirip langganan BIS

Menonton Televisi yang Sehat

Kunci hidup sehat ternyata tidak hanya olahraga, istirahat, dan makan teratur, tetapi juga mengurangi waktu menonton televisi. Kenapa menonton televisi masuk pada gaya hidup yang membuat seseorang dekat dengan penyakit? Bukankah menonton televisi itu cukup rileks, tidak ada aktivitas fisik atau pikiran di dalamnya? Menonton televisi berlebihan dinilai dapat memengaruhi kesehatan. Sayang, hal ini tidak diketahui banyak orang. Padahal, orang senantiasa menghabiskan waktunya berjam-jam, bahkan ada yang seharian, duduk manis di depan layar kecil.

Sepintas kita akan susah membedakan efek yang dirasakan orang yang senantiasa menghabiskan waktunya menonton televisi dan yang tidak bercengkerama dengan tontonan audiovisual. Akan tetapi, dalam hal-hal tertentu, kita dapat membedakan orang yang banyak menonton televisi dan tidak. Secara fisik dan mental ada perbedaan signifikan di antara keduanya. Perilaku dan sikap orang yang tidak terkontaminasi tontonan televisi lebih murni. Artinya, mereka berbuat sesuatu tanpa digerakkan hal-hal di luar dirinya. Sementara orang yang banyak menonton televisi akan lebih agresif, banyak meniru. Karakter diri itu sejatinya sudah lebur dengan informasi baru yang didapatkan via tayangan televisi.

Sabtu, 13 November 2010

21 Fakta Tentang Jepang

1. Di Jepang, angka “4″ dan “9″ tidak disukai, sehingga sering tidak ada nomer kamar “4″ dan “9″. “4″ dibaca “shi” yang sama bunyinya dengan yang berarti “mati”, sedang “9″ dibaca “ku”, yang sama bunyinya dengan yang berarti “kurushii / sengsara.
2. Orang Jepang menyukai angka “8″. Harga-harga barang kebanyakan berakhiran “8″. Susu misalnya 198 yen. Tapi karena aturan sekarang ini mengharuskan harga barang yang dicantumkan sudah harus memasukkan pajak, jadi mungkin kebiasaan ini akan hilang. (Pasar = Yaoya = tulisan kanjinya berbunyi happyaku-ya atau toko 800).

3. Kalau musim panas, drama di TV seringkali menampilkan hal-hal yang seram (hantu).

4. Cara baca tulisan Jepang ada dua style : yang sama dengan buku berhuruf Roman alphabet huruf dibaca dari atas ke bawah, dan yang kedua adalah dari kolom paling kanan ke arah kiri. Sehingga bagian depan dan belakang buku berlawanan dengan buku Roman alphabet (halaman muka berada di “bagian belakang”).

5. Tanda tangan di Jepang hampir tidak pernah berlaku untuk keperluan formal, melainkan harus memakai hanko/inkan/ cap. Jenis hanko di Jepang ada beberapa, a.l. jitsu-in, ginko-in, dan mitome-in. Jadi satu orang kadang memiliki beberapa jenis inkan, untuk berbagai keperluan. Jitsu-in adalah inkan yang dipakai untuk keperluan yang sangat penting, seperti beli rumah, beli mobil, untuk jadi guarantor, dsb. jenis ini diregisterkan ke shiyakusho. Ginko-in adalah jenis inkan yang dipakai untuk khusus membuat account di bank. inkan ini diregisterkan ke bank. Mitome-in dipakai untuk keperluan sehari-hari, dan tidak diregisterkan.

6. Kalau kita membubuhkan tanda tangan, kadang akan ditanya orang Jepang: ini bacanya bagaimana ? Kalau di Jepang saat diperlukan tanda tangan (misalnya di paspor, dsb.) umumnya menuliskan nama mereka dalam huruf Kanji, sehingga bisa terbaca dengan jelas. Sedangkan kita biasanya membuat singkatan atau coretan sedemikian hingga tidak bisa ditiru/dibaca oleh orang lain.

7. Acara TV di Jepang didominasi oleh masak memasak.

8. Fotocopy di Jepang self-service, sedangkan di Indonesia di-service.

9. Jika naik taxi di Jepang, pintu dibuka dan ditutup oleh supir. Penumpang dilarang membuka dan menutupnya sendiri.

10. Pernah nggak melihat cara orang Jepang menghitung “satu”, “dua”, “tiga”.... dengan jari tangannya ? Kalau agan-agan perhatiin, ada perbedaan dengan kebiasaan orang Indonesia. Orang Indonesia umumnya mulai dari tangan dikepal dan saat menghitung “satu”, jari kelingking ditegakkan. Menghitung “dua”, jari manis ditegakkan, dst. Kalau orang Jepang, setahu saya, kebalikannya. Mereka selalu mulai dari telapak tangan terbuka, dan cara menghitungnya kebalikan orang Indonesia. Saat bilang “satu”, maka jarinya akan ditekuk/ditutupkan ke telapak tangan. Kalo nggak percaya, coba deh… jikken dengan teman Jepang anda.

11. Sepeda tidak boleh dipakai boncengan, kecuali yang memboncengkannya berusia lebih dari 16 tahun dan anak yang diboncengkan berusia kurang dari satu tahun dan hanya seorang saja yang diboncengkan. Bila dilanggar, dendanya maksimal 20 ribu yen.

12. Kalo naik eskalator di Tokyo, kita harus berdiri di sebelah kiri, karena sebelah kanan adalah untuk orang yang terburu-buru. Jangan sekali-kali berdiri di kanan kalo kita ga langsung naik.

13. Pacaran di Jepang sungguh hemat, traktir2an bukan budaya pacaran Jepang. Jadi selama belum jadi suami-istri, siapin duit buat bayar sendiri-sendiri.

14. Nganter jemput pacar juga bukan budaya orang Jepang. Kalo mau ketemuan, ya ketemuan di stasiun.

15. Jangan pernah sekali-kali bilang ke orang jepang : “Gue maen ke rumah lu ya”. Karena itu dianggap ga sopan. Ke rumahnya cuma kalo udah diijinin.

16. “Aishiteru” yang berarti aku cinta kamu, jarang dipake sama orang pacaran, kecuali kalo mereka bener-bener udah mau nikah. Biasanya mereka make “Daisuke desu” buat ngungkapin kalo mereka sayang sama pacarnya.

17. Sebelum bepergian, biasanya orang Jepang selalu ngecek ramalan cuaca. Dan 90% ramalan cuaca itu akurat. Itu sebabnya kalo ada orang bawa payung, pasti kita bakal liat orang yang lainnya lagi bawa payung juga. Dan perempatan Shibuya adalah tempat yang paling menarik ketika hujan, karena dari atas kita akan melihat lautan payung yang berwarna-warni.

18. Bunga sakura adalah bunga yang spesial di Jepang, karena bunganya hanya tumbuh 2 minggu selama setahun. Ketika tumbuh, bunganya memenuhi seluruh pohon, tanpa daun. Setelah 2 minggu, ga ada satupun bunga sakura, yang ada hanyalah daun-daun hijau, tanpa bunga, dan jadi ga menarik lagi.

19. Di Indonesia, kita bakal dapet duit kalo kita ngejual barang bekas kita ke toko jual-beli. Tapi di Jepang, kita malah harus bayar kalo mau naro barang kita di toko jual-beli. Itulah sebabnya kenapa orang Jepang lebih milih ninggalin TV bekas mereka gitu aja kalo mo pindah apartemen.

20. Di perempatan jalan Kyoto, perempatan jalan yang kecil, ga ada mobil sama sekali, tapi ada lampu merah, pejalan kaki selalu berhenti ketika lampu tanda pejalan kaki menunjukkan warna merah. Mereka santai aja, baca koran, ngobrol, ngerokok, dan kemudian jalan lagi ketika lampu sudah hijau. Padahal ga ada mobil yang lewat satupun. Mungkin kalo mereka ngelanggar peraturan juga ga akan celaka.

21. Mereka ga percaya Tuhan (mayoritas atheis), tapi mereka bisa disiplin dan taat sama peraturan. Mungkin karena itu negara mereka maju.

Jumat, 12 November 2010

Kredo Mbah Maridjan

Juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan bersujud kepada Yang Maha Pencipta ketika menemui ajal pada Rabu (27/10) seraya berserah diri dan berbekal penuh satu energi dari tirakatan Jawa.
Dia membungkuk dengan tangan, lutut, dan kepala menyentuh tanah sebagai simbol bahwa raga hendak kembali kepada bumi.
Tersapu oleh suhu panas membara dari energi ajaran Jawa, "Aja sira lunga, yen tan weruh ingkang pinaran. Aja sira nganggo, yen tan weruh ingkang dienggo!" (Jangan kamu pergi, jika kamu tak tahu mana tujuanmu. Jangan kamu menyandang, jika kamu tak tahu apa yang kamu sandang!), Mas Penewu Suraksohargo ingin "kembali".
Lahir di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, pada tahun 1927, Mbah Maridjan bersujud dengan raga dan pikirn takzim di hadapan misteri tak berhingga. Ia merebahkan diri sampai seluruh tubuh dan hati menyentuh tanah. "Aku ini abu dan akan kembali menjadi abu".
Abu melambangkan awal dan akhir kehidupan. Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, sarat abu memutih dengan pemandangan daratan luluh lantak diterjang awan panas dari erupsi Gunung Merapi.
Surat-surat kabar pun menulis dengan menggunakan tinta hitam "Indonesia Bersedih" (Harian Kompas), dan "Memilukan...(Media Indonesia). Dan, sebuah stasiun televisi nasional mengajak berdoa kepada seluruh warga Indonesia (Pray for Indonesia).
Puing rumah terhampar dan bangkai hewan terdampar di Dusun Kinahrejo. Suhu awan panas terpapar mencapai 600-1.000 derajat celsius  meluncur dari kawah Merapi dengan kecepatan 60 kilometer per jam menyapu dusun dan menewaskan sejumlah orang, termasuk Mbah Maridjan.
Insan bersama flora dan fauna dalam vitalitas Merapi seakan mewartakan bahwa Bumi ini sungguh misteri yang menggetarkan dan menggelorakan. Terjadi semburan abu vulkanik dan kerikil saling menyusul dalam erupsi eksplosif Gunung Merapi, Selasa (26/10) pukul 18.10.
"Erupsi kali ini lebih besar dari tiga erupsi sebelumnya," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono. Semburan abu vulkanik dan kerikil merupakan ciri erupsi eksplosif gunung berapi.
Fenomen Merapi ini menggenapi kredo bahwa waktu itu maju dan memuncak. Waktu tidak dapat kembali (irreversible).
Merapi yang bergelora, merapi yang digdaya meski kini meminta korban puluhan jiwa seakan menyeret kontemplasi manusia bahwa zaman sudah sampai pada usianya yang tua (zaman wis teka titi wanci tuwa). Manusia terus diburu waktu untuk bersegera memohon jawaban yang serba pasti (maneges).
Sementara, Mbah Maridjan dengan kredonya merespons seluruh alam ciptaan dengan menerima segala kemalangan bahkan kematian tanpa menyalahkan siapa pun, termasuk Tuhan. Manusia tidak layak mengutuk atau mengeluh, karena manusia sejatinya berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu.
Budayawan Sindhunata menulis dalam buku Petruk Jadi Raja, bahwa Gunung Merapi bisa memuntahkan api yang menghanguskan dan mematikan manusia. Namun, Gunung Merapi memberi hidup dan rejeki berupa pasir dan tanah subur. Dalam air dan api, ada berkah sekaligus malapetaka.
Kalau manusia mau menerima rejeki yang diberikan oleh air dan api, ia dituntut sanggup hidup dalam resiko karena air dan api. Menolak hidup dalam resiko membuat manusia menjadi pemarah, pengeluh, pengutuk dan tak mau bertanggung jawab. Inilah kredo Mbah Maridjan.
Ketika merespons tentang bencana banjir dan longsor di mana-mana akibat ulah manusia, ia mengatakan, ”Meski diberi sebanyak apa pun, manusia akan merasa kekurangan karena kekurangan itulah kebutuhan manusia”.
Ia menulis dalam jejaring sosial facebook, "Mbah masih merasa kerasan tinggal di Dusun Kinahrejo Cangkringan Sleman Yogyakarta, sambil berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Bagi yg sudah diminta pemerentah untuk mengungsi, mbok ya patuh ya... Mohon dengan sanget."
Saat Gunung Merapi berubah status menjadi awas pada 25 Oktober 2010, Mbah Maridjan pun menolak mengungsi. “Lha saya di sini (di rumah) kerasan. Nanti kalau ada tamu ke sini malah kecele kalau saya pergi,” kata Mbah Maridjan saat ditemui di kediamannya.
Ia memegang teguh tanggungjawab sebagai juru kunci dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Setiap Gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando dari beliau untuk mengungsi. Mbah mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970. Jabatan sebagai juru kunci lalu ia sandang sejak tahun 1982.
Ketika Gunung Merapi meletus pada 2006, imbauan pemerintah daerah dan bujukan aparat keamanan agar Mbah Maridjan turun mengungsi tak dihiraukan. Bahkan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X telah mengatakan agar perintah pemerintah dipatuhi.
"Biarpun saya jadi Sultan, saya tunduk kepada keputusan pemerintah," kata Sultan saat Merapi meletus pada April 2006, sebagaimana dikutip dari laman Tempo.Com. Dan Mbah Maridjan menyatakan, "Setiap orang punya tugas sendiri-sendiri. Wartawan, tentara, polisi punya tugas. Saya juga punya tugas untuk tetap di sini".
Imbauan yang meneguhkan setiap pengungsi agar mau bertanggungjawab atas hidupnya diutarakan oleh Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta Brigjen Polisi Ondang Sutarsa Budhi.
"Pokoknya kalau diminta turun ya turun sajalah, kondisi darurat dan mendesak, tidak usah memikirkan harta benda ataupun hewan ternak. Yang penting warga itu mematuhi perintah pasti aman," katanya.
Dalam hening bening, dalam mosaik tanggungjawab kepada hidup, Mbah Maridjan bersujud sebagai isyarat hendak berkomunikasi antara raga dan pikiran.
Intipati kredo Mbah Maridjan, "Berhentilah sejenak. Mampirlah minum. Dan rebahkanlah egomu."

Jumat, 05 November 2010

Sembuh dari Patah, Tulang Semakin Kuat???

Seperti halnya otot, tulang manusia tumbuh dan bertambah kuat jika mendapat tekanan, dan menjadi lemah jika jarang dipakai. Konsep ini, bahwa tulang beradaptasi pada tekanan atau kehilangan kekuatannya, disebut dengan hukum Wolff.

Itulah sebabnya mengapa para astronot yang pulang ke bumi sering kehilangan kepadatan tulangnya setelah mereka mengapung dalam keadaan gravitas mikro di luar angkasa. Hukum Wolff juga menjelaskan mengapa para pemain tenis dan pemain anggar tulang kaki dan tangannya lebih kuat daripada bagian tubuh lainnya.

Sayangnya, kemampuan adaptasi tulang hanya sampai itu. Orang seringkali salah paham bahwa setelah fraktur atau patah, tulang akan tumbuh menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan mitos tersebut.

Ketika tulang patah, dalam proses menumbuhkan tulang yang rusak, sel osteoblas membantu membentuk kalus lunak yang terbuat dari kolagen. Sel ini membentuk tulang spongius (berlubang-lubang) pada kolagen sehingga terbentuk belat alami di dalam yang menghubungkan ujung-ujung kedua tulang yang patah. Pada akhirnya tulang spongius akan diganti dengan tulang yang lebih padat dan fraktur pun sembuh.

Namun menurut Dr.Terry D.Amaral, direktur bedah ortopedik anak dari Montefiore Medical Center, Amerika, dokter akan memasang gips agar tulang tidak bergerak sehingga proses penyembuhan menjadi lebih cepat.

"Tapi karena tidak tekanan di bagian tulang yang patah itu, tulang pun menjadi lebih lemah. Kecuali di bagian kalus yang banyak deposit kalsiumnya," kata Amaral. Bagian tulang yang sedang proses penyembuhan itu mengalami mineralisasi yang sangat cepat. "Namun karena kita tidak bisa digunakan, bagian tulang sekitarnya menjadi kehilangan mineral," tambahnya.

Pada satu periode dalam proses penyembuhan, bagian tulang yang patah mungkin menjadi lebih kuat dari tulang di sekitarnya. Namun, kemudian kekuatannya menjadi sama sehingga area yang patah tidak gampang patah lagi. Meski begitu, sebenarnya kekuatannya tetap sama dengan tulang lainnya.